Elis
15 jan, 1990
Aku tak percaya apa yang kudengar, maksudku, aku percaya, tapi ini terlalu indah. Akhir-akhir ini hidupku begitu sempurna, sejak pernikahanku 3 bulan lalu. Sekarang tebak apa yang aku dapat? Tentu saja! Bayi! Tangis haru dan tawaku menjadi satu saat kukabarkan kehamilanku pada suamiku, william yang bekerja di luar lota. Tentu saja dia tak kalah senangnya denganku.
17 april, 1990
Apa yang lebih indah dari sepasang bayi kembar? Katakan padaku! Dan aku akan tetap mengatakan bayi kembar laki-laki dan perempuanku lah hadiah teridah dari Tuhan untukku. Bulan kelima kehamilanku, dan aku semakin semangat memenuhi kamar si kembar dengan pernak pernik bayi yang menggemaskan.
14 juli, 1990
Tidak mungkin! Bayiku tidak mungkin meninggal! Mungkin saja dokter salah mendeteksi, atau semacamnya, aku benar-benar tak habis pikir, aku kehilangan salah satu bayiku..apakah itu mungkin? Sepertinya otakku terlalu buntu untuk berpikir itu mungkin atau tidak, yang kupikirkan sekarang bagaimana nasib anakku yang satunya? Pasti ia kesepian kehilangan pendamping nya selama 8 bulan belakangan ini, sesepi diriku yang kehilangan salah satu bayiku. Paling tidak Tuhan masih berbaik hati membiarkan anakku yang satunya hidup, akan kupastikan dia merasakan dunia sebulan lagi..
24 agustus, 1990
Bayi laki-laki yang tampan lahir ke dunia, rasanya benar-benar anugrah bagiku. Senyumnya seperti william, dan kata william, matanya yang teduh persis seperti mataku..
Dan kami memanggilnya Thor.
Thor
Hai, inilah aku dan kehidupanku. Layaknya keluarga bahagia pada umumnya, aku yang tumbuh dengan kasih sayang orangtuaku. Ayah dan ibuku mengatakan imajinasiku sangat tinggi untuk anak berumur 4 tahun dibandingkan anak-anak seumuranku. Mereka mengatakan begitu karena ceritaku tentang anak bernama Tiara.
Aku bertemu dengannya saat musim panas di halaman belakang rumahku, kulitnya agak terbakar sinar matahari, senyumnya begitu manis dan matanya yang teduh seakan mengajak kita berlama-lama menatapnya. Tiara anak yang ceria dan dengan rambut yang sebahu aku tahu dia suka bertualang. Jadi kami sering bertualang bersama, ke bukit kecil di kompleks perumahanku dan mencari serangga, atau sekedar berkejar-kejaran. Aku selalu menceritakan dengan antusias pengalamanku dengan Tiara ke ayah dan ibu, dan setelahnya mereka berkata kepadaku, “cerita yang menarik nak!” atau semacam “kami tahu kau akan menjadi pencerita yang handal nantinya”
Perlahan seiring bertumbuhnya aku, aku seperti juga tak pernah lagi bertemu dengan tiara, dan sepertinya aku sudah lupa padanya saat umurku 6 tahun, terlebih lagi aku bertemu banyak teman kemudian. Dan aku sangat bahagia menjalani kehidupanku dengan teman-temanku. Berenang di danau sepulang sekolah, atau bermain kelereng di halaman rumah, apa saja yang menurut kami menyenangkan.
dan kebahagiaan ku semakin sempurna setelah lahirnya kanya pada umurku yang ke 8. Kanya perempuan berkulit putih yang manis dengan mata bagaikan malaikat, dan ibu selalu bilang tak ada yang lebih cantik selain senyuman kanya. Aku juga sangat menyayangi kanya adikku.
Aku dan kanya tumbuh penuh dengan cinta ayah ibuku selama 5 tahun kedepan, walaupun kadang ayah sering pergi untuk urusan pekerjaan di luar kota, tapi kami tak pernah merasakan kekurangan curahan kasihnya.
Kanya adikku punya kekurangan di bandingkan anak seumurnya, dia baru dapat berbicara setelah umurnya menginjak 4 tahun, dan dia seakan begitu rapuh. Dia tidak bisa bertemu dengan orang diluar keluarga kami, dia tak suka keluar rumah seperti hobiku dulu, dan dia selalu menangis histeris jika diajak ke sekolah. Tak ada manusia yang sempurna, itu kata ibu. Dan ibu dengan senang hati mengajari apa saja yang kanya perlu tahu. Walaupun dia juga agak lambat dalam menerima informasi. Satu hal yang kanya bisa lakukan dengan sempurna, melukis. Dia senang sekali mencoret-coret apa saja, dan terutama ibu membelikannya banyak peralatan melukis. Dan setiap kali kami memajang lukisannya entah di ruang tamu atau ruang keluarga, orang-orang yang melihat selalu berkomentar, “kau membeli lukisan ini dari pelukis mana?”. Dan mereka sungguh tak percaya bahwa kanya lah yang melukis itu semua.
Hari pertama ku di SMA sepertinya akan menyenangkan, dan setelah berpakaian aku hendak keluar saat aku bertemu seorang gadis yang mengejutkanku, Tiara!
“dari mana kau masuk?!” Tiara hanya diam.
“aku mau ikut sekolah,” katanya
Aku terdiam, bingung bagaimana caranya.
“aku ingin juga punya banyak teman sepertimu!”
“baik, terserah kau, ikut saja ke sekolah kalau kau mau”
“Thor! Cepat turun dan makan sarapanmu! Sedang bicara dengan siapa kamu?”
“bukan siapa-siapa!”
Aku turun dan menuruti apa perintah ibu, lalu bergegas menaiki bis sekolah setelah berpamitan dengan ibu dan malaikat kecilku, Kanya.
Aku kembali bertemu Tiara di sekolah, dan dia mengatakan ingin duduk di sebelahku. Jadi aku mengatakan sudah ada yang duduk disana saat orang-orang menawarkan diri untuk duduk di sebelahku, mereka lalu memandangku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan.
Sore itu aku menghampiri kanya dikamarnya, dan terkejut melihat yang ia gambar, itu Tiara!
“kau kenal Tiara?” tanyaku, kanya mengangguk
“darimana kau kenal dia?”
“dia bersamamu kan?” aku heran
“kanya benar Thor, aku bersamamu..teganya kau melupakan aku”
“Tiara?!” aku hampir tak percaya melihatnya duduk disampingku dan tersenyum
Kanya memberikan lukisan diri Tiara kepadanya
“ah, terimakasih! Ini benar-benar hadiah yang manis dari seorang adik” tiara tersenyum, manis sekali
Dan kanya balas tersenyum, sepintas wajah mereka terlihat sama. Tapi lalu aku heran, kenapa Tiara menyebut kanya adik? Belum selesai aku berpikir soal itu, ibu masuk ke kamar kanya dan menyuruh kami untuk tidur.
Malam ini hujan deras, dan petir menyambar-nyambar. Kanya yang penakut seperti biasa pindah ke kamar ayah dan ibu. Aku terbangun karena kerasnya suara petir dan merasa haus. Aku membuka pintu kamarku dan berjalan perlahan menuju dapur, rumahku gelap sekali, sepertinya listrik mati karena hujan deras, jika tidak biasa dapur diterangi lampu remang-remang. Begitu juga ruang keluarga. Baru saja aku akan mengambil gelas, aku mendengar suara
“kau haus, Thor?”
“T..Tiara??”
Tiara tersenyum penuh arti, dan menghampiriku.
“aku butuh bantuanmu..” bisiknya
Aku heran, bantu? Bantu apa? Tiara kemudian membuka salah satu laci dapur, dan mengambil pisau! Aku ingin berteriak, tapi tidak bisa. Tiara lari ke kamar ayah dan ibu, aku bergegas mengejarnya.
“tiara! Apa yang kau...”
Aku hening, pemandangan yang kulihat sungguh-sungguh tidak kusukai. Tiara menghujamkan pisau dapur itu ke ayah dan ibu berkali-kali. Apa yang kulihat benar-benar seperti mimpi, aku ingin berteriak. Tapi entah kenapa suaraku tak bisa keluar, hanya desah nafasku yang memburu, dan suara detak jantungku yang begitu cepatnya.
Aku seakan tersadar mendengar jerit kanya, aku menghampiri kanya dan hendak memeluknya. Tapi ia malah menangis histeris dan berusaha menghindar dariku. Yang lebih tidak kupercaya, tanganku berlumuran darah! Begitu juga dengan bajuku. Dan aku memegang pisau dapur yang tadi dipegang Tiara. Seluruh ruangan berbau darah, dan aku melempar pisau dapur itu sambil berteriak ketakutan.
Aku menjambak rambutku dan terduduk, masih berteriak. Aku tidak percaya apa yang terjadi hari ini. Lalu aku mendengarkan suara tawa. Tawa yang mengerikan dan terdengar puas.
“TIARA!!” aku menudingnya, dia duduk santai di samping ranjang ayah ibuku yang berlumuran darah
“KAU MEMBUNUH AYAH IBUKU!!” teriakku galau, Tiara tertawa lagi
“siapa? Aku?” tanya Tiara, senyumnya tersungging..
“KAU PEMBUNUH!!!” teriakku frustasi, aku benci sekali dengannya.
“bukan aku Thor, tapi kita..” aku ternganga dan heran
Lalu Tiara tertawa lagi..
Tak ada waktu untuk memusingkan keadaan ini, aku harus mencari kanya! Aku mencari di seluruh rumah sambil meneriakkan namanya berulang-ulang. Namun kanya tak juga muncul. Terang, Kanya melihat diriku telah membunuh Ayah dan ibu..tak sengaja aku menangkap suara tangis kanya di halaman rumahku. Aku segera berlari keluar dan mendapati kanya sesenggukan bersembunyi di balik pot.
“kanya!!” aku berlai menghampirinya dan memeluknya
Tapi kanya menjerit-jerit tak karuan, berusaha melepaskan diri dari pelukanku, aku semakin galau.
“kanya! Aku tidak membunuh ayah dan ibu! Tiara lah yang melakukannya”
“kau membunuh ayah ibu! Kau membunuh mereka!” jerit kanya di sela-sela tangisnya
“tidak! Bukan aku!” teriakku lagi
“akui saja Thor! Kita membunuh ayah ibu!” teriak Tiara yang tiba-tiba disampingku.
“aku tidak melakukannya!”
“tapi aku melakukannya Thor!” bentak Tiara “dan aku adalah kamu!!”
Bagaimana bisa?! Aku terperanggah..
“kita selalu bersama kan Thor, sejak dalam kandungan” suara Tiara melembut...
“aku benci ayah ibu yang tidak menganggapku ada, padahal aku terus ada di antara kalian 17 tahun ini!”
Kanya berhasil melepaskan diri dariku dan lari ke jalan raya, di saat yang bersamaan sebuah mobil melaju kencang menuju arahnya..
“KANYA!!” teriakku, dan Tiara
Aku berlari ke jalan berusaha meraih tubuh Kanya, dan aku merasakan Tiara juga melakukan hal yang sama, merasakan? Ya..akhirnya kusadari keberadaan Tiara dalam diriku, selama ini aku tumbuh dengan arwah Tiara yang terus tinggal dalam diriku. Satu-satunya alasan Tiara tidak membunuh Kanya adalah bagi Tiara kanya merupakan bagian dirinya, dirinya yang tidak sempat dilahirkan, dan Kanya pulalah yang menganggap dirinya ada. Kami meraih tubuh Kanya dan melemparkannya ke pinggir jalan. Lalu kulihat wajah manisnya itu ketakutan, dan berteriak kakak...
KANYA
Aku meletakkan 2 karangan bunga di 2 gundukan tanah yang berjajar itu
“ini untuk mu ayah, ibu”
Dan aku menghampiri satu gundukan yang lainnya, meletakkan lagi 2 karangan bunga
“ini untuk kak Thor, dan juga kak Tiara...terimakasih untuk hari itu..kakak sudah mengorbankan nyawa untukku”
Lalu aku meninggalkan kompleks pemakaman itu dan memasukki mobil BMW merahku. Aku sudah memaafkan kak Tiara, aku tahu seperti apa rasanya tidak dilahirkan. Karena sejak malam itu, aku merasakan diriku yang sesungguhnya telah lahir. Keberanian, pengetahuan dan sebagainya yang kak Tiara wariskan padaku, di Hari dia berpulang. Karena sesungguhnya, akulah bagian dari kak Tiara yang tak pernah lahir, karena itulah sejak awal aku dapat melihat kak Tiara, yang ada dalam diri kak Thor. Aku juga berterimakasih pada kak Thor yang selalu ada untukku dan selalu melindungiku. Dan Ayah ibu yang menghadirkan aku ke dunia dan membuat aku merasa ‘ada’.
0 comments